Rintangi Penyidikan, Advokat Lucas Divonis 7 Tahun Penjara

Majelis hakim Tipikor menjatuhkan vonis 7 tahun penjara terhadap advokat Lucas. Ia ditetapkan terbukti bersalah sebab merintangi proses penyidikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap Eddy Sindoro, mantan petinggi Lippo Group.

 

“Terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah mengerjakan tindak pidana menghalangi penyidikan tindak pidana korupsi atas nama Eddy Sindoro pidana penjara sekitar 7 tahun denda Rp 600 juta bila tidak ditunaikan diganti kurungan sekitar 6 bulan,” ucap Hakim Frangki Tambuwun ketika membacakan vonis Lucas, Jakarta Pusat, Rabu (20/3).Hakim menimbang perbuatan Lucas menyuruh Eddy meninggalkan Indonesia sebagai upaya menghindari proses hukum sudah terbukti laksana adanya komunikasi Lucas dengan anak Eddy Sindoro melewati FaceTime. Hal itu ditentang Lucas.

 

Vonis hakim yang dijatuhkan lebih enteng ketimbang tuntutan jaksa penuntut umum pada KPK yang menuntut pidana maksimal 12 tahun penjara, denda Rp 600 juta.Jaksa menilai tindakan Lucas tidak menyokong program pemerintah dalam pemusnahan tindak pidana korupsi, yakni menolong Eddy menghindari penyidikan KPK walau berstatus terduga pemberi suap untuk Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution.

 

Di samping itu, perbuatan Lucas sangat berlawanan prinsip-prinsip negara hukum, lagipula ia berprofesi adalahpenegak hukum, advokat.Atas susunan perbuatannya itu Lucas ditetapkan telah melanggar Pasal 21 undang-undang nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diolah dengan undang-undang nomor 20 tahun 2001 mengenai Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

 

Lucas langsung mengaku banding usai dijatuhi vonis 7 tahun penjara. Ia merasa vonis hakim tidak adil sebab tidak terdapat bukti perbuatannya menghalangi penyidikan KPK.”Satu hari juga saya mengaku banding.Tidak terdapat pertimbangan sama sekali mencantol bukti dan kenyataan persidangan,” ujar Lucas.

 

Kasus Lucas bermula saat Eddy diputuskan sebagai terduga oleh KPK pada 21 November 2016 atas sangkaan memberi suap untuk Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution, berhubungan penanganan perkara yang melibatkan anak perusahaan Lippo Group. Pasca-penetapan tersangka, Eddy tak kunjung mengisi panggilan KPK guna menjalani pemeriksaan.Mengetahui urusan tersebut, Lucas yang mempunyai hubungan baik dengan Eddy menyarankan supaya keluar dari Indonesia sekitar 12 tahun, sehingga permasalahan tersebut kedaluarsa. Lucas pun berperan aktif mengurus pelarian Eddy ke luar negeri dengan memakai paspor palsu.

 

Ia menyerahkan saran untuk Eddy Sindoro supaya lepas kedudukan warga negara Indonesia dan memilih menjadi penduduk Amerika Latin atau Virgin Island. Meski pada saat tersebut Eddy Sindoro hendak pulang ke Indonesia guna menghadapi kasusnya.Eddy Sindoro kemudian sukses keluar Indonesia mengarah ke Bangkok, Thailand, tanpa ada pengecekan imigrasi sesudah Lucas terlebih dahulu berkoordinasi dengan seseorang mempunyai nama Dina Soraya dan petugas Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

 

Lucas pun memberikan imbalan berupa duit SGD 4000 dan Rp 50 juta untuk pihak-pihak yang turut menolong atas kepergian Eddy ke luar negeri.